Oleh :
Nurma Yunita Indriyanti, S.Pd.,M.Si.
Endang Susilowati, M.Si.
1.
Pengertian dan Pentingnya Modul
Modul adalah suatu cara pengorganisasian materi
pelajaran yang memperhatikan fungsi pendidikan. Strategi pengorganisasian
materi pembelajaran mengandung squencing yang mengacu pada pembuatan
urutan penyajian materi pelajaran, dansynthesizing yang mengacu pada
upaya untuk menunjukkan kepada pebelajarketerkaitan antara fakta, konsep,
prosedur dan prinsip yang terkandung dalam materipembelajaran. Untuk merancang
materi pembelajaran, terdapat lima kategori kapabilitasyang dapat dipelajari
oleh pebelajar, yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual,strategi
kognitif, sikap, dan keterampilan motorik. Strategi pengorganisasian
materipembelajaran terdiri dari tiga tahapan proses berpikir, yaitu pembentukan
konsep,intepretasi konsep, dan aplikasi prinsip. Strategi-strategi tersebut
memegang peranansangat penting dalam mendesain pembelajaran. Kegunaannya dapat membuat
siswalebih tertarik dalam belajar, siswa otomatis belajar bertolak dari prerequisites,
dan dapatmeningkatkan hasil belajar.
Secara prinsip tujuan pembelajaran adalah agar siswa
berhasil menguasai bahan pelajaran sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.
Karena dalam setiap kelas berkumpul siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda
(kecerdasan, bakat dan kecepatan belajar) maka perlu diadakan pengorganisasian
materi, sehingga semua siswa dapat mencapai dan menguasai materi pelajaran
sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam waktu yang disediakan, misalnya satu
semester. Di samping pengorganisasian materi pembelajaran yang dimaksud di
atas, juga perlu memperhatikan cara-cara mengajar yang disesuaikan dengan
pribadi individu. Bentuk pelaksanaan cara mengajar seperti itu adalah dengan
membagi-bagi bahan pembelajaran menjadi unit-unit pembelajaran yang
masing-masing bagian meliputi satu atau beberapa pokok bahasan. Bagian-bagian
materi pembelajaran tersebut disebut modul. Sistem belajar dengan fasilitas
modul telah dikembangkan baik di luar maupundi dalam negeri, yang dikenal
dengan Sistem Belajar Bermodul (SBB).
SBB telah dikembangkan dalam
berbagai bentuk dengan berbagai nama pula, seperti Individualized Study
System, Self-pased study course, dan Keller plan (Tjipto
Utomo dan Kees Ruijter, 1990). Masing-masing bentuk tersebut menggunakan
perencanaan kegiatan pembelajaran yang berbeda, yang pada pokoknya
masing-masing mempunyai tujuan yang sama, yaitu:
a. memperpendek
waktu yang diperlukan oleh siswa untuk menguasai tugas pelajaran tersebut;
b. menyediakan
waktu sebanyak yang diperlukan oleh siswa dalam batas-batas yang dimungkinkan
untuk menyelenggarakan pendidikan yang teratur. Pelaksanaan pembelajaran
bermodul memiliki perencanaan kegiatan sebagai berikut.
Ciri-ciri modul adalah sebagai berikut.
a. Didahului
oleh pernyataan sasaran belajar
b. Pengetahuan
disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menggiring partisipasi siswa secara
aktif.
c. Memuat
sistem penilaian berdasarkan penguasaan.
d. Memuat
semua unsur bahan pelajaran dan semua tugas pelajaran.
e. Memberi
peluang bagi perbedaan antar individu siswa
f. Mengarah
pada suatu tujuan belajar tuntas.
Keuntungan yang diperoleh dari pembelajaran dengan
penerapan modul adalah sebagai berikut.
a. Meningkatkan
motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi
dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
b. Setelah
dilakukan evaluasi, guru dan siswa mengetahui benar, pada modul yang mana siswa
telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
c. Siswa
mencapai hasil sesuai dengan kemampuannya.
d. Bahan
pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester
e. Pendidikan
lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diyakini
bahwa pembelajaran bermodul secara efektif akan dapat mengubah konsepsi siswa
menuju konsep ilmiah, sehingga pada gilirannya hasil belajar mereka dapat
ditingkatkan seoptimal mungkin baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Hasil penelitian terdahulu (Richard Duschl, 1993) menyatakan bahwa pembelajaran
modul dalam pembelajaran konsep yang menyangkut kesetimbangan kimia dapat
mengubah miskonsepsi siswa menuju konsep ilmiah.
2. Model
Pengembangan Modul
Model adalah sesuatu yang dapat menunjukkan suatu
konsep yang menggambarkan keadaan sebenarnya. Model adalah seperangkat prosedur
yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses. Model merupakan replikasi dari
aslinya. Model pengembangan modul merupakan seperangkat prosedur yang dilakukan
secara berurutan untuk melaksanakan pengembangan sistem pembelajaran modul. Dalam
mengembangkan modul diperlukan prosedur tertentu yang sesuai dengan sasaran
yang ingin dicapai, struktur isi pembelajaran yang jelas, dan memenuhi kriteria
yang berlaku bagi pengembangan pembelajaran. Ada lima kriteria dalam pengembangan
modul, yaitu :
a. membantu
siswa menyiapkan belajar mandiri,
b. memiliki
rencana kegiatan pembelajaran yang dapat direspon secara maksimal,
c. memuat
isi pembelajaran yang lengkap dan mampu memberikan kesempatan belajar kepada
siswa,
d. dapat
memomitor kegiatan belajar siswa, dan
e. dapat
memberikan saran dan petunjuk serta infomasi balikan tingkat kemajuan belajar
siswa.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pengembangan modul
harus mengikuti langkah-langkah yang sistematis. Langkah-langkah tersebut
adalah :
(1) analisis tujuan dan karakteristik isi bidang
studi,
(2) analisis sumber belajar,
(3) analisis karakteristik pebelajar,
(4) menetapkan sasaran dan isi pembelajaran,
(5) menetapkan strategi pengorganisasian
isi pembelajaran,
(6) menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran,
(7) menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran,
dan
(8) pengembangan prosedur pengukuran hasil
pembelajaran.
Langkah-langkah (1), (2), (3), dan (4) merupakan
langkah analisis kondisi pembelajaran, langkah-langkah (5), (6), dan (7)
merupakan langkah pengembangan, dan langkah (8) merupakan langkah pengukuran hasil
pembelajaran.
2.1 Analisis Tujuan dan karakteristik Isi Bidang
Studi
Analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi
perlu dilakukan pada tahap awal kegiatan perancangan pembelajaran. Langkah ini
dilakukan untuk mengetahui sasaran pembelajaran yang bagaimana yang ingin
dicapai. Secara lebih spesifik, langkah ini dimaksudkan untuk mengetahui tujuan
orientasi pembelajaran, misalnya orienatsi konseptual, prosedural, ataukah
teoretik. Di samping itu, juga dimaksudkan untuk mengetahui tujuan pendukung
yang memudahkan pencapaian tujuan orientasi tersebut. Analisis karakteristik
isi bidang studi dilakukan untuk mengetahui tipe isi bidang studi apa yang akan
dipelajari siswa, apakah berupa fakta, konsep, prosedur, ataukah prinsip. Yang
lebih pokok lagi adalah untuk mengetahui bagaimana struktur isi bidang studinya.
2.2 Analisis Sumber Belajar
Analisis sumber belajar dilakukan segera setelah
langkah analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi. Langkah ini
dimaksudkan untuk mengetahui sumbersumber belajar apa yang telah tersedia dan
dapat digunakan untuk menyampaikan isi pembelajaran. Hasil kegiatan ini akan
berupa daftar sumber belajar yang tersedia yang dapat mendukung proses
pembelajaran.
2.3 Analisis Karakteristik Pebelajar
Karakteristik pebelajar didefinisikan sebagai aspek
atau kualitas perseorangan berupa bakat, kematangan, kecerdasan, motivasi
belajar, dan kemampuan awal yang telah dimilikinya. Langkah ini dilakukan untuk
mengetahui kualitas perseorangan yang dapat dijadikan petunjuk dalam
mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran, yang hasilnya berupa daftar
pengelompokan karakteristik siswa menjadi sasaran pembelajaran. Untuk mengoptimalkan
perolehan, pengorganisasian, dan pengungkapan pengetahuan baru, dapat dilakukan
dengan membuat pengetahuan baru itu bermakna bagi pebelajar dengan cara
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Ada lima
jenis kemampaun awal yang harus diperhatikan dalam perancangan pembelajaran,
yaitu (1) pengetahuan bermakna yang tak terorganisasi (arbitrarily
meaningful knowledge), (2) pengetahuan analogis (analogic knowledge),
(3) pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (superordinate knowledge), (4)
pengetahuan setingkat (kooedinate knowledge), dan (5) pengetahuan
tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge). Jenis-jenis
pengetahuan awal itu sangat menentukan dalam membangun pengetahuan baru bagi
siswa dalam pembelajaran.
2.4 Menetapkan Indikator dan Isi Pembelajaran
Langkah ini sebenarnya sudah bisa dilakukan segera
setelah melakukan analisis indikator dan karakteristik isi bidang studi, yang
hasilnya berupa daftar yang memuat rumusan indikator pembelajaran dan struktur
isi yang akan dipelajari (Degeng, 1997). Ada tiga kriteria dalam merumuskan
indikator pembelajaran, yaitu (1) dijabarkan secara konsisten dan sistematis
dari subordinat yang terdapat pada bagian analisis pembelajaran, (2)
menggunakan satu kalimat atau lebih, dan (3) pernyataan yang digunakan sangat
membantu dan berlaku dalam penyusunan butir-butir tes. Indikator pembelajaran
yang baik memiliki empat kriteria, yaitu (1) a subject, yaitu orang yang
belajar, (2) a verb, yaitu kata kerja aktif yang dapat menunjukkan perubahan
tingkah laku, (3) a condition, yaitu keadaan yang diperlukan pada saat
siswa belajar, dan (4) standard, yaitu kriteria keberhasilan belajar
yang ingin dicapai. Indikator pembelajaran dimaksudkan untuk membangun
harapan-harapan dalam diri pebelajar tentang hak-hak yang harus dikuasai
setelah belajar. Dengan kata lain, siswa yang mengetahui sasaran yang ingin
dicapai cenderung dapat mengorganisasi kegiatan belajarnya ke arah tujuan yang
ingin dicapai, sehingga sasaran pembelajaran dapat memotivasi siswa untuk
belajar.
2.5 Menetapkan Strategi Pengorganisasian Isi
Pembelajaran
Menetapkan strategi pengorganisasian isi
pembelajaran segera bisa dilakukan setelah analisis dan penetapan tipe serta
karakteristik materi pembelajaran. Pemilihan strategi pengorganisasian
pembelajaran sangat dipengaruhi oleh tipe isi bidang studi yang dipelajari dan
bagaimana struktur isi bidang studi tersebut. Hasil langkah ini akan berupa
penetapan model untuk mengorganisasi isi bidang studi, baik tingkat mikro maupun
makro.
2.6 Menetapkan Strategi Penyampaian Isi Pembelajaran
Menetapkan strategi penyampaian pembelajaran
didasarkan pada hasil analisis sumber belajar. Daftar sumber belajar yang telah
tersedia dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Pada langkah penetapan
strategi penyampaian isi pembelajaran, daftar yang telah dibuat tersebut
dijadikan dasar dalam memilih dan menetapkan strategi penyampaian pembelajaran.
Hasil langkah ini adalah berupa penetapan model untuk menyampaikan materi
pembelajaran. Penyampaian isi pembelajaran mengacu kepada cara yang dipakai
untuk menyampaikan isi pembelajaran kepada siswa sekaligus menerima dan
merespon masukan-masukan dari siswa. Oleh sebab itu, penyampaian pembelajaran
disebut metode untuk melaksanakan proses pembelajaran. Komponen-komponen yang
perlu diperhatikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian isi pembelajaran
adalah (1) media pembelajaran, (2)
interaksi isi pembelajaran dengan media, dan (3) bentuk atau struktur belajar
mengajar. Ada lima komponen strategi penyampaian pembelajaran, yaitu (1)
kegiatan prapembelajaran, (2) penyajian informasi, (3) peran siswa, (4) pengetesan,
dan (5) tindak lajut. Kegiatan pertama yang dilakukan dalam penyampaian
prapembelajaran adalah memberikan motivasi kepada siswa tentang pentingnya mata
kuliah yang dimaksud. Kegiatan kedua adalah menjelaskan sasaran khusus
pembelajaran dengan maksud agar siswa menyadari kemampuan apa yang mereka capai
setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Kegiatan ketiga adalah menjelaskan
kemampuan apa yang diperlukan sebagai prasyarat belajar.
Pada komponen penyajian informasi, kegiatan yang
dilakukan oleh guru adalah menjelaskan tentang urutan materi pembelajaran,
besarnya satuan pengajaran dalam bentuk satuan kredit semester maupun jam
semesternya, penyajian isi, dan memberikan contoh-contoh yang relevan.
Penyajian isi dilakukan melalui model belajar kooperatif konstruktivistik.
Siswa kerja secara kooperatif memecahkan masalah yang telah dituangkan dalam
LKS, hasilnya dilaporkan secara tertulis, dan apabila terdapat masalah tak
terpecahkan akan diadakan diskusi kelas untuk memformulasikan cara bersama yang
paling tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Pada komponen peran siswa, guru
mengupayakan suatu iklim agar kegiatan pembelajaran berpusat pada siswa. Interaksi
siswa dengan LKS yang digunakan merupakan aktivitas yang sengaja diciptakan
untuk mewujudkan iklim kontruktivistik dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini
siswa sepenuhnya berlatih memecahkan masalah yang ada pada LKS menggunakan
kemampuan masing-masing dalam kelompok-kelompok kecil. Hasil diskusi yang telah
ditulis oleh kelompok, selanjutnya diberikan balikan baik dalam diskusi kelas
maupun diskusi dalam kelompok, artinya siswa diberitahu cara pemecahan yang
benar, dan siswa melanjutkan menggunakan cara tersebut sehingga berhasil
memecahkan masalah-masalah pada LKS. Tinggi rendahnya kadar keaktifan siswa
dalam memecahkan masalah melalui interaksinya dalam kelompok akan menetukan
tujuan pembelajaran, artinya makin tinggi tingkat keaktifan siswa makin tinggi
pencapaian sasaran belajar dan makin rendah tingkat keaktifan siswa makin
rendah pula pencapaian sasaran pembelajaran. Pada komponen pengetesan, pada
dasarnya guru dapat melakukan empat macam
tes, yaitu (1) tes tingkah laku masukan, (2) pra tes, (3) tes sambil
jalan, dan (4) pasca tes. Pasca tes adalah tes penggalan, yaitu tes yang
dilakukan dengan tujuan untuk mengukur apakah materi pembelajaran sesuai dengan
sasaran pembelajaran. Pengetesan dilakukan dengan memberikan tugas kepada siswa
untuk mengerjakan soal-soal latihan, baik yang ada pada modul, maupun yang
khusus disiapkan untuk itu. Pada komponen tindak lanjut, guru menentukan apakah
suatu pembelajaran perlu ditinjak lanjuti dengan memberikan pengajaran remidial
atau memberi pengayaan kepda siswa. Langkah ini dapat dilakukan setelah guru
mengetahui tingkat pencapaian pembelajaran.
3. Komponen-Komponen
Modul
Komponen-komponen modul mencakup (1) bagian
pendahuluan, (2) bagian Kegiatan Belajar, dan (3) daftar pustaka. Bagian
pendahuluan mengandung (1) penjelasan umum mengenai modul, (2) indicator pembelajaran. Bagian
Kegiatan Belajar
mengandung (1) uraian isi pembelajaran, (2) rangkuman, (3) tes, (4) kunci jawaban, dan (5)
umpan balik.
3.1 Tujuan Pembelajaran
Hakikat sasaran pembelajaran mengacu kepada hasil
pembelajaran yang
diharapkan. Sasaran umum pembelajaran ditetapkan terlebih dahulu dan semua
upaya pembelajaran
diarahkan untuk mencapai sasaran tersebut. Sasaran khusus pembelajaran merupakan
penjabaran dari sasaran umum pembelajaran yang menjelaskan tingkah laku khusus yang
dimiliki siswa setelah menyelesaikan pembelajaran tersebut. Sasaran pembelajaran
diklasifikasikan menjadi dua jenis, sejalan dengan dua jenis strategi pengorganisasian
pembelajaran yang ada (strategi makro dan mikro), yaitu sasaran umum dan sasaran
khusus. Sasaran khusus pembelajaran adalah pernyataan khusus tentang hasil
pembelajaran yang diinginkan. Sasaran ini diacukan kepada konstruk tertentu, apakah
itu fakta, konsep, prosedur, atau prinsip. Oleh karena itu akan banyak mempengaruhi
strategi pengorganisasian mikro. Istilah yang lebih populer adalah behavior
objective, performance objective, yakni uraian tentang apa
yang dapat dikerjakan
siswa setelah menyelesaikan satu unit pembelajaran. Pengertian
indikator pembelajaran dapat ditinjau dari empat sudut pandang, yaitu (1) segi
peran siswa, (2) kepentingan siswa, (3) wujudnya, dan (4) cara merumuskannya.
Dari segi peran siswa, sasaran khusus pembelajaran diartikan sebagai pernyataan
tentang hasil yang dicapai siswa setelah dibelajarkan. Ditinjau dari segi kepentingan
siswa, sasaran khusus pembelajaran diartikan sebagai deskripsi tingkah laku yang
diharapkan dapat dimiliki siswa setelah mengikuti pembelajaran. Ditinjau dari wujudnya,
sasaran khusus pembelajaran berarti deskripsi informasi yang ditunjukkan
siswa sebagai hasil pembelajaran. Ditinjau dari segi cara merumuskannya, sasaran khusus
pembelajaran dapat diartikan sebagai hasil belajar yang dirumuskan secara rinci.
3.2 Uraian Isi pembelajaran
Uraian isi pembelajaran menyangkut masalah strategi
pengorganisasian isi pembelajaran yang oleh Reigeluth, Bunderson, dan Merril
dalam degeng (1988), diartikan sebagai strategi yang mengacu kepada cara untuk
mebuat urutan (squencing) dan mensintesis (synthesizing) fakta, konsep,
prosedur, dan prinsip-prinsip yang berkaitan. Squencing mengacu kepada upaya
pembuatan urutan penyajian isi bidang studi, sedangkan synthesizing mengacu
kepada upaya untuk menunjukkan kepada siswa keterkaitan
antara fakta, konsep, prosedur, dan prinsip yang terkandung dalam bidangstudi. Proses
pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar jika isi dan prosedur pembelajaran
diorganisasi menjadi urutan yang bermakna, bahan disajikan dalam bagian-bagian
yang bergantung pada kedalaman dan kesulitannya. Untuk tujuan tersebut
diperlukan langkah sintesis pembelajaran. Mensintesis adalah mengaitkan topik-topik
suatu bidang studi dengan keseluruhan isi bidang studi, sehingga isi yang disajikan lebih
bermakna menyebabkan siswa memiliki ingatan yang baik dan lebih tahan lama terhadap
topik-topik yang dipelajari. Materi pembelajaran yang tepat untuk disajikan dalam
kegiatan pembelajaran adalah (1) relevan dengan sasaran pembelajaran, (2)
tingkat kesukaran sesuai dengan taraf kemampuan pebelajar, (3) dapat memotivasi
pebelajar, (4) mampu mengaktifkan pikiran dan kegiatan pebelajar, (5) sesuai dengan
prosedur pengajaran yang ditentukan, dan (6) sesuai dengan media pengajaran yang
tersedia. Berkaitan
dengan pengembangan modul, isi pembelajaran diorganisasikan menurut struktur
isi pembelajaran dengan analisis sasaran khusus pembelajaran.
3.3 Rangkuman
Rangkuman merupakan komponen modul yang menyajikan
ide-ide pokok isi
pembelajaran modul, sebagai tinjauan ulang serta pendalaman terhadap materi pembelajaran
yang telah dipelajari siswa. Rangkuman dapat memberikan manfaat yang sangat berarti
bagi siswa dalam mengorganisasi ingatannya, karena rangkuman berisi pernyataan
singkat yang mudah diingat dan dipahami. Rangkuman merupakan (1) pernyataan
singkat mengenai isi bidang studi yang telah dipelajari, (2) contoh-contoh
setiap konsep, prosedur, atau prinsip yang diajarkan. Pemberian
rangkuman dalam pengajaran merupakan bagian penting dari strategi pembelajaran
sehingga memiliki manfaat yang sangat penting, baik untuk siswa, maupun guru. Hal penting yang
perlu diperhatikan dalam menyusun rangkuman adalah, (1) rangkuman harus
singkat dan langsung pada isinya, (2) rangkuman berisi ide-ide pokok, (3) rangkuman
mencatat informasi dalam bentuk catatan atau grafik/diagram, atau formulasi-formulasi,
(4) rangkuman dapat membangun dan mengembangkan pelajaran, (5) bagian yang
peting perlu digaris bawahi atau diketik miring, (6) menarik dan dapat dibaca.
3.4 Tes
Tes merupakan alat untuk mengetahui seberapa jauh indikator pembelajaran
telah dicapai oleh siswa. Tes juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru, untuk
mengetahui seberapa jauh keberhasilan bimbingan yang diberikannya dan berfungsi untuk
memperbaiki proses pembelajaran. Proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila
diberikan tes yang relevan dengan sasaran khusus pembelajaran. Bentuk tes dapat
berupa tes subyektif dan/atau tes obyektif. Skor setiap item tes boleh sama atau
berbeda, bergantung kepada tingkat kesukaran masing-masing item tes.
3.5 Kunci Jawaban
Kunci jawaban berisi jawaban tes yang wajib
dikerjakan oleh siswa. Kunci jawaban berfungsi sebagai panduan siswa terhadap
jawaban tes, dan umpan balik bagi guru untuk mengetahui seberapa jauh tingkat
keberhasilan belajar siswa terhadap indikator
pembelajaran. Jawaban tes mengacu kepada isi pembelajaran. Jawaban soal subyektif
sebaiknya disusun dengan singkat dan padat serta tidak menimbulkan tafsiran yang
lain atau berbeda.
3.6 Umpan Balik
Umpan balik adalah komponen modul yang berisi
informasi tentang (1) skor tiap-tiap item tes, (2) rumus cara menghitung skor
akhir yang dicapai siswa, (3) pedoman menentukan tingkat pencapaian indikator siswa
berdasarkan skor yang dicapai, dan (4) kegiatan berikutnya yang dilakukan siswa
setelah diketahui tingkat pencapaian pembelajaran. Informasi dalam umpan balik
memiliki dua fungsi, yakni (1) fungsi perbaikan, (2) fungsi penguatan (reinforcement).
3.7 Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan bagian penting bagi modul.
Dengan daftar pustaka yang lengkap, mutakhir dan relevan, siswa dapat
menelusuri informasi untuk melakukan pendalaman dan pengembangan materi
pembelajaran sesuai dengan sasaran pembelajaran yang telah dirumuskan.
Referensi
:
Gay, L. R. 1987. Education research, Competencies
for analysis and application. Third edition. Columbus: Merrill Publishing
Company.
Lewis, D. G. 1968. Experimental design in education.
London: University of London Press Ltd.
Prendergast, M. 2002. Action research: The improvement
of student and teacher
learning. http://educ.queensu.ca/~ar/reports/MP2002.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar