By: Jenny Gichara, S.H., B.Ed., M.Pd. | Artikel | 24 Maret 2011, 16:18:19 | Dibaca: 1778 kali
Menjadi guru yang nyaman dan disenangi murid? Mana mungkin?”
bantah seorang guru skeptis. Segala sesuatu pasti mungkin bila kita mau
mengubah sikap dan paradigma berpikir tentang pekerjaan kita. Setelah terjun ke
dunia pendidikan, saya baru tahu gimana rasanya menghadapi siswa dengan
berbagai karakter. Di satu sisi, seorang guru seolah dituntut memenuhi kemauan
siswa, sementara di sisi lain sang guru terikat dengan peraturan sekolah dan
kurikulum. Memang tidak mudah. Tidak heran bila seorang guru bisa tampil jutek
di depan murid-muridnya karena dihimpit berbagai tekanan dan tuntutan.
Bagaimana dengan sekarang? Kita masih sering mendengar guru yang
melecehkan muridnya, marah berlebihan, melakukan kekerasan sehingga murid
melakukan perlawanan, dll. Meskipun mungkin
banyak guru tidak lagi menggunakan kekerasan fisik dalam
menghukum, murid masih sering ‘dihadiahi’ kata-kata yang tidak membagun dan
membunuh karakternya. Kata-kata itu melukai hati murid hingga dapat menimbulkan
dendam dan sakit hati.
Berikut ini adalah penyebab mengapa guru tidak disenangi para
siswanya.
Tekanan hidup
Kehidupan guru di negara kita masih banyak yang memprihatinkan.
Tingkat kesejahteraan hidup yang rendah ditambah tekanan ekonomi, minimnya
fasilitas mengajar membuat guru banting stir untuk menghidupi keluarganya.
Keadaan yang tidak kondusif ini terbawa ke sekolah sehingga ketika mengajar,
disadari atau tidak beban itu terungkap, baik lewat kata-kata maupun tindakan.
Bila guru mampu memilah-milah
persoalan pribadi dan keluarga, sang murid akan menjadi korban
perilaku buruk dari guru tersebut.
Karakter asli
Menjadi seorang guru memang tidak mudah karena sejak awal ia sudah
harus menempatkan diri sebagai seseorang yang patut ditiru (teladan sekaligus
model). Bila seorang telah berkomitmen mengabdikan diri sebagai guru, sebaiknya
ia menyadari peran tugas dan peranan yang ia emban di hadapan murid. Calon guru
yang tadinya memiliki sifat temperamental, keras kepala, marah-marah,
melecehkan, sombong, tidak sabar, kurang perhatian, berkata kasar sebaiknya
mulai membuang sifat tersebut jauh-jauh. Caranya? Tentu dengan banyak latihan.
Karakter asli yang buruk ini jika dibawa terus dapat menginfeksi pribadi siswa
sehingga pembelajaran menjadi terganggu.
Gila hormat
Menjaga wibawa guru sah-sah saja. Namun menempatkan diri sebagai
orang yang gila hormat dan tak pernah salah dapat berakibat fatal bagi siswa.
Lebih parah lagi bila sang guru tidak menguasai materi, tapi tetap ngotot,
bahkan tidak mau memberi kesempatan pada murid untuk bertanya karena takut
siswanya lebih pintar daripadanya. Sebaliknya guru yang terbuka dengan dialog
dan berwawasan luas akan semakin memacu dirinya agar dapat selangkah lebih maju
dibanding muridnya.
GURU YANG NYAMAN BAGI SISWA
Mempunyai panggilan sebagai guru
Parker J. Palmer, dalam bukunya The Courage to Teach, San
Fransisco, menuliskan bahwa cara kita mengajar akan menunjukkan siapa diri kita
(We Teach Who We Are). Seorang guru hendaknya mengajar karena panggilan
hati untuk memperbarui kehidupan siswanya, baik secara kognitif maupun sikap
(teaching from within). Jangan sekali-kali menjadikan profesi guru sebagai
pelarian atau karena gagal meraih tujuan tertentu. Saat ini kita benar-benar
membutuhkan seseorang yang siap ditempa menjadi guru, didorong oleh panggilan
hati dan tidak terpaksa menekuni bidang yang dipilihnya.
Dengan kata lain, bila merasa panggilan hati Anda bukanlah menjadi
seorang pengajar (guru), janganlah memaksakan diri atau pura-pura mencintai
pekerjaan itu. Segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah membuahkan
hasil optimal. Lagipula sikap dan keengganan Anda mengajar akan segera
terpancar kepada murid Anda sehingga dapat meninggalkan rekaman buruk di hati
dan pikiran mereka. Suatu saat keburukan Anda akan meledak bagai menunggu bom
waktu.
Tidak Perlu Jaim
Di zaman ini, rasanya kurang pas bila seorang guru masih terus
menjaga jarak dengan siswa atas nama wibawa alias jaim atau jaga image.
Wibawa terpancar dari kharisma yang melekat pada diri seorang guru dan tidak
akan pernah pudar manakala ia bersentuhan langsung dengan siswa. Seorang guru
sebaiknya bisa berperan ganda, baik sebagai teman dan sekaligus sebagai
orangtua. Tujuannya bukan sama sekali untuk merendahkan martabat guru tapi demi
lancarnya kelangsungan proses belajar-mengajar itu sendiri.
Sebagai teman, guru dapat menerapkannya dalam kehidupan murid
ketika melakukan tugas lapangan. Dalam hubungan ini, guru bisa lebih banyak
mengeksplorasi kemampuan murid sehingga dapat mengembangkan potensi atau bakat
positif yang mereka miliki. Sebagai orangtua, guru dapat bersikap tegas, penuh
wibawa saat mendidik atau mendisiplinkan murid namun tetap dengan hati yang
mengasihi dan panjang sabar. Jangan pernah sungkan memberi ruang pada murid
sebagai teman curhat yang terpercaya bagi anak-anak didik.
Anda adalah Apa yang Anda Katakan
Artinya perkataan merupakan cerminan hidup seorang guru. Bila
kata-kata yang dikeluarkan adalah kata-kata negatif, maka itulah hidup Anda
yang sesungguhnya. Sebaliknya, bila kata-kata yang Anda keluarkan bersifat
membangun, mendidik dan memotivasi, begitu jugalah diri Anda yang sebenarnya.
Kata-kata adalah buku terbuka sebab dari sanalah terpancar kepribadian Anda. Di
saat mengajar siswa, hati-hatilah Anda bicara, sebab perkataan positif dan
negatif biasanya langsung direkam oleh otak siswa sehingga mereka dapat menilai
siapa Anda yang sesungguhnya.
Sadari Profesi Sebagai Guru
Bila ditanya, siapa nama guru yang berkesan dalam hidup Anda?
Paling tidak kita hanya dapat menyebutkan beberapa nama. Tapi, cobalah tanya
nama guru yang tidak berkesan dan bahkan mungkin menyebalkan dalam hidup Anda,
kita pasti mampu menjejerkan puluhan nama lengkap dengan ‘record’ buruknya
meskipun sebagian besar dari mereka sudah meninggal dunia. Tapi bagaimanapun,
kita harus tetap menghormati jasa mereka.
Sebagai penutup, kiranya Anda betul-betul menyadari bahwa Anda
adalah seorang guru yang menjadi teladan bagi para murid. Seluruh tingkah laku
dan gaya hidup sehari-hari Anda mencerminkan kepribadian Anda yang hampir
seluruhnya akan dilihat dan dicontoh murid. Melalui hal itulah murid akan
belajar tentang kehidupan orang yang lebih dewasa daripada mereka.
Jika seorang guru sadar akan hal ini sejak awal,
paling tidak Anda semakin waspada berperilaku ketika berinteraksi dengan siswa.
Yang lebih penting lagi, murid mendambakan konsistensi antara perkataan dan
perbuatan Anda. Jangan lupa, mata dan hati para murid cenderung mengingat dan
cenderung melihat cela saat Anda melakukan kesalahan. Bila hal ini disadari
sepenuhnya, kemungkinan Anda disukai murid bukanlah sesuatu yang mustahil, tapi
pasti terjadi dan siap mengantarkan Anda menjadi seorang guru yang handal,
terpercaya, mengasihi murid serta siap mencetak siswa yang cepat tanggap
(responsif) dan bertanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar